Sabtu, 08 Juli 2017
...tegal jepangnya indonesia...
Julukan yang populer pada masa kuat-kuatnya persekutuan rejim Orde Baru (Orba) dengan kapitalis asuhan Inggris dan Amerika dan tentu sudah pada tahu konco-konco mereka, 1970-an hitungan masehi jangka tahunnya.
***
Okay, pelan dan resapi dulu rasa sebagai warga negara yang kalah perang, Jepang kalah perang! Lalu bangkit dengan hal sederhana yang justru ambil warisan grup Kutil dan kawan-kawannya (asli Tegal), yakni disiplin diri berorganisasi dan tidak tunduk pada 'feodalisme'. Jepang bahkan bisa berkontribusi pada hal imajinatif untuk anak-anak dimana ini juga asimilasi kultural antara fabel dan wayang kulit.
Kemudian tengoklah Tegal (kotamadya dan kabupaten), lebih menampakkan wajah lupa bersyukur atau entah apa julukan yang tepat diberikan pada daerah ini.
Infrastruktur kota dan kabupaten Tegal sejak Indonesia merdeka sudah merupa kota industri dan perdagangan lintas negara di eropa, jalur rel kereta api di pelabuhan wujudnya, tapi itu dimatikan.
Belum lagi mengupas infrastruktur pendukung gairah warga dalam ber-keseni-an, dulu ada Gedung Rakjat untuk teater, banyak bioskop untuk asupan rasa, dan sebagainya.
Apa yang dilihat saat ini?
Semua itu punah di Tegal. Bahkan untuk sebuah hal sederhana; ndombret (yang sok) priyayi, warga Tegal pilih ndilati ludah sendiri.
Bokir
Jumat, 19 Februari 2016
Daur Ulang Retorika Usang
Manakala mata dan telinga mulai sebah, pada kabar sekian pemerintah daerah dipulas kotoran ulah politis sekelompok orang. Dan selalu saja pola yang sama dimainkan mereka dengan tujuan pemenuhan syahwat golongan.
Menurut analisis penulis lewat simak runtutan waktu kabar tersebut, semua makin menjadi ketika Mahkamah Konstitusi begitu cepat memutuskan sekian ratus persengketaan Pilkada (pemilihan kepala daerah). Dimana beberapa partai politik koalisi asal ngumpul kalah. Ya... ada tapak jelas, konstituent parpol-parpol bernada 'kanan' mulai lemah di daerah, dan ini fakta.
Lalu keluhan-keluhan anak-anak manja dari organisasi bawah ketiak parpol itu mulai sengat telinga para elite di ibukota. Apa saran dan petunjuk dari elite; Daur Ulang Retorika Usang.
Retorika Usang didaur ulang lewat pola: sikap rasis, ekslusif dan kepala batu. Ritme daur ulangnya dengan gubah tafsir-tafsir kitab suci, ujaran nabi hingga putar balik fakta sejarah. Celakanya beberapa institusi non politik justru ikut membantu gerakan kelompok manja ini.
Gradasi ideologi makin jelas, sebab elite politik yang saat ini pegang kendali mayoritas tuna pikir dan tolak belajar. Selalu saja bolak-balik mirip kentut dalam sarung usung jargon-jargon abad pertengahan.
Bila hal ini tidak segera disikapi oleh kawan-kawan muda di daerah, maka pendulum jaman akan tuju ruang penuh amarah dan darah. Lebih baik mulai bergerak dengan sederhana bersama gawai-gawai canggih di tangan, reguk pengetahuan dan selalu verifikasi kabar.
Bustanul 'bokir' Arifin
Brebes, 2016 02 20
Menurut analisis penulis lewat simak runtutan waktu kabar tersebut, semua makin menjadi ketika Mahkamah Konstitusi begitu cepat memutuskan sekian ratus persengketaan Pilkada (pemilihan kepala daerah). Dimana beberapa partai politik koalisi asal ngumpul kalah. Ya... ada tapak jelas, konstituent parpol-parpol bernada 'kanan' mulai lemah di daerah, dan ini fakta.
Lalu keluhan-keluhan anak-anak manja dari organisasi bawah ketiak parpol itu mulai sengat telinga para elite di ibukota. Apa saran dan petunjuk dari elite; Daur Ulang Retorika Usang.
Retorika Usang didaur ulang lewat pola: sikap rasis, ekslusif dan kepala batu. Ritme daur ulangnya dengan gubah tafsir-tafsir kitab suci, ujaran nabi hingga putar balik fakta sejarah. Celakanya beberapa institusi non politik justru ikut membantu gerakan kelompok manja ini.
Gradasi ideologi makin jelas, sebab elite politik yang saat ini pegang kendali mayoritas tuna pikir dan tolak belajar. Selalu saja bolak-balik mirip kentut dalam sarung usung jargon-jargon abad pertengahan.
Bila hal ini tidak segera disikapi oleh kawan-kawan muda di daerah, maka pendulum jaman akan tuju ruang penuh amarah dan darah. Lebih baik mulai bergerak dengan sederhana bersama gawai-gawai canggih di tangan, reguk pengetahuan dan selalu verifikasi kabar.
Bustanul 'bokir' Arifin
Brebes, 2016 02 20
Senin, 21 Desember 2015
Bustanul 'bokir' Arifin
Bustanul Arifin is an Indonesian researcher and social activist. After working for the “Offstream Productions” in Jakarta he was volunteering at the Children’s Trauma Healing Center (Central Java, 2006-2007 and 2010-2011), being in charge of recreational programs, security and documentation of orphans who lost their parents in the earthquakes of 2006 and 2010. As a research assistant of Andrea Star Reese documentary project “Disorder”, Bokir’s contribution was crucial to unveil the stigma around mental disease within the Indonesian society (2011-2014). Concurrently he was also working a research assistant for Ascan Breuer during the filming of “Riding My Tiger” (2012-2013).
- writed by Anna Gabriella Szabo -
Selasa, 13 Oktober 2015
The Year of Refugees
All moslem in the world are celebrating for the 1437th Hijriy Year tonight. It was the epic situation; however the history about 'the Hijriy' explained about the movement of refugee. According to some text about the story of Hijriy that; Mohammad the prophet with his family and friend choosen to moved from mecca to madina city.
The epic, the analogy of the Hijriyans was the Syirian refugee (or the other nation) moved to save their life caused the ISIL/ISIS action. Than the Germany, Hungary and Sweden was the Anshorian; they opened the arm to accept for the refugees from the eastern side.
So, could the world open the eyes, who's the Abu Jahal's ideology groups or at the past named by Jahiliyans? This is the epic...and still remembering the Satanic Verses Novel writed by Salman Rushdie. The religion should be bring the peace not wars.
Bustanul 'Bokir' Arifin
01-01-1437 H
Minggu, 07 Juni 2015
Negara Klepto
Tetap saja sulit untuk nyatakan Republik Indonesia baiak-baik saja. Ini bukan soal bagaimana jalan pemerintah maupun rengekan oposisi (yang ujung-ujungnya diam kalau kenyang). Ada banyak 'program' di pemerintah Kabupaten/Kota yang semula melayani warga, khususnya bidang kesehatan dan pendidikan, kemudian tiba-tiba hilang atas nama tidak ada anggaran.
Miris bila melihat satu Kabupaten justru subur pencurian duit warga, pada satu hal yang bersinggungan dengan kesehatan dan pendidikan. Celakanya beberapa pihak terkait malah bangga curi duit warga. Dan hukum konon sudah lunas dibeli para pencuri tersebut.
Usah berpikir keras, bagaimana ada rasa bangga saat curi duit warga, dari mereka yang punya jabatan dan pangkat jelas sebagai pegawai maupun aparat hukum Republik Indonesia. Apalagi bila banyak arsip kabar jelas-jelas menulis; para pencuri akan dibela dengan doa-doa kepada Tuhan agar dibebaskan dari pasal-pasal hukum yang berlaku. Lucunya, semua itu dapat berubah jadi kaum 'moralis' dan mudah menghukum kesalahan kecil warga yaitu: lupa pada Republik Indonesia pernah diproklamirkan Merdeka, sebab ada fakta 'penjajah' dan 'perompak' dipelihara negara.
NB: Anjing satu tujuh delapan.... monitor? Pasal 86 Hukum Jalanan: Maling dipelihara sangat sayang oleh Negara.
Bustanul Bokir Arifin
Jogja Juni 07 2015
Senin, 17 November 2014
jalan sepi
pada satu perjumpaan,
dimana malaikat tiba-tiba jadi buta huruf
dan iblis jadi gagu membatu ...
malaikat tak bisa catat apapun
dan iblis tidak bisa bisik satu kalimatpun ...
agama jadi alat
pemancung kepala
perekat sekutu dengan iblis
pembujuk malaikat agar manipulasi catatan kebaikan ...
tuhan yang berakar di kepala
diposisikan
lebih rendah dari pantat sekutu kuasa
sujud hadap kemana
brankas uang
atau
selangkangan ....
Brebes18 nopember 2014Bustanul Bokir Arifin
dimana malaikat tiba-tiba jadi buta huruf
dan iblis jadi gagu membatu ...
malaikat tak bisa catat apapun
dan iblis tidak bisa bisik satu kalimatpun ...
agama jadi alat
pemancung kepala
perekat sekutu dengan iblis
pembujuk malaikat agar manipulasi catatan kebaikan ...
tuhan yang berakar di kepala
diposisikan
lebih rendah dari pantat sekutu kuasa
sujud hadap kemana
brankas uang
atau
selangkangan ....
Brebes18 nopember 2014Bustanul Bokir Arifin
Rabu, 17 September 2014
Tentara Mayapada
Dikabarkan oleh beberapa media bahwa Panglima TNI Jendral Moeldoko mengangkat Dato' Sri Prof. DR Tahir MBA konglomerat pemilik grup bisnis Mayapada sebagai 'penasehat' bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Prajurit. Kabar ini terbitkan sangka, kelak akan ada perubahan fungsi TNI (Tentara Nasional Indonesia) jadi centeng kepentingan grup bisnis Mayapada.
Sebenarnya riwayat 'selingkuh' tentara dan bisnisman sudah ada jejaknya di Indonesia, tercatat dalam sejarah tabiat ini merupakan turunan sifat dari fasisme kolonial Belanda dan Jepang. Pada masa kolonial Belanda pada abad IX ada jejak pengangkatan gelar-gelar kehormatan militer untuk beberapa keluarga konglomerat, bisa dilihat pada riwayat kapiten-kapiten yang berasal dari keluarga konglomerat. Kemudian pada masa pendudukan fasis Jepang ada tapak kerjasama dengan konglomerat juga berupa pemberian perlindungan dan gelar atas nama penguatan 'bangsa Asia'. Uniknya pada tapak sejarah sebelum kemerdekaan itu pula beberapa keluarga konglomerat yang berkongsi dengan Belanda maupun Jepang masih diterima pemerintah Indonesia setelah merdeka.
Pada awal-awal pembentukan sosok ideal pemerintahan Indonesia, ada juga konflik internal 'TNI' dimana sebagian jenderal didikan KNIL-Belanda maupun Heiho-Jepang, keduanya berkonflik demi ikatan kekerabatan dengan beberapa konglomerat Indonesia maupun luar negeri. Sampai-sampi konflik itu makin meruncing menjelang tragedi 1965. Dan setelah Sukarjo jatuh, Indonesia berada pada pimpinan Soeharto dimana dalam riwayat sebelum jadi presiden akrab sekali dengan pebisnis Liem Sui Liong. Mulailah TNI yang saat Orde Baru dinamai ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), makin kental dan lebih dari selingkuh bersama beberapa konglomerat dalam dan luar negeri.
Jatuhnya Soeharto oleh desakan warga dan elite di tahun 1998 tampaknya tidak sentuh perubahan signifikan pada ikatan TNI dan Konglomerat, konon beberapa Jenderal saat itu mulai adu kekuatan bisnis bersama-sama kongsi masing-masing.
Hingga masa presiden SBY akan berakhir TNI sebenarnya tidak lepas kongsi dengan keluarga Konglomerat, namun dengan munculnya pernyataan Panglima TNI Moeldoko (yang punya jam tangan Mewah abal-abal) ini keluarkan pernyataan resmi atas pengangkatan Konglomerat Tahir sebagai 'penasehat' bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Prajurit ini makin jelas sebuah fakta baru, bahwa prajurit TNI diduga tidak akan sejahtera bila Institusi TNI tidak 'selingkuh' atau 'poligami' sekalian dengan beberapa Konglomerat. Padahal negara sudah memberi gaji dan subsidi pada TNI, yang konon sudah lebih baik dibandingkan masa Orde Baru.
Bila esok beberapa konglomerat mulai diangkat jadi penasehat TNI, maka bisa jadi TNI berubah jadi Tentara Mayapada, dan tentara beberapa nama grup usaha milik konglomerat.
Brebes, 18 September 2014.
Bustanul Bokir Arifin.
Selasa, 15 April 2014
Cemburu
Syahdan ada pertemuan tdk sengaja antara cowok udik (ndeso) dengan cewek dari kota besar pada sebuah wilayah, karena satu sebab mereka berdua mau tidak mau harus berinteraksi dalam waktu cukup lama.
Ajaibnya tulisan ini, si cowok diajari cewek cara menulis Surat Cinta. Sampai pada satu titik kulminasi, cowok udik tersebut menitipkan Surat Cinta untuk kekasihnya pada si Cewek itu. Dan entah apa sebabnya, surat tersebut tidak pernah dikirimkan si cewek, karena dia 'cemburu' pada suara hati si cowok udik pada kekasihnya.
Itulah kesan Inyong saat menghadiri pementasan 15 tahun Puthut EA Berkarya di LIP Yogyakarta. Pementasan yang apik dan rapih... Ikut bersyukur serupa Puthut EA
Yogyakarta, 15 April 2014
Ajaibnya tulisan ini, si cowok diajari cewek cara menulis Surat Cinta. Sampai pada satu titik kulminasi, cowok udik tersebut menitipkan Surat Cinta untuk kekasihnya pada si Cewek itu. Dan entah apa sebabnya, surat tersebut tidak pernah dikirimkan si cewek, karena dia 'cemburu' pada suara hati si cowok udik pada kekasihnya.
Itulah kesan Inyong saat menghadiri pementasan 15 tahun Puthut EA Berkarya di LIP Yogyakarta. Pementasan yang apik dan rapih... Ikut bersyukur serupa Puthut EA
Yogyakarta, 15 April 2014
Rabu, 08 Januari 2014
Pemandangan
Duduk di sudut tertentu dalam pasar tradisional, hirup aroma parfum perempuan tengah belanja campur aduk dengan keringat kuli dan tukang becak. Sesekali sengatan busuknya sampah dan bangkai-bangkai hewan kecil colek sensor dalam hidung. Mata memindai bentuk buah, sayur, daging, payudara, pantat, otot-otot berbalut kulit legam, rambut beraneka warna.
Ramai obrolan, tawar menawar harga, keluhan jiwa, harapan-harapan walau setitik terbitnya. Kabar tentang pemilihan kepala desa, korupsi, turunnya niat gotong royong antar warga, hangusnya hati dibakar hasrat cinta. Debat tanpa tuntas, pertengkaran dalam diam, doa-doa berbaju air mata, umpatan keras, bujuk rayu dan gejolak nafsu kasat mata, dukun-dukun laris sepertinya.
Barang-barang dagangan menggunung, berharap semua bisa ditukar dengan mata uang entah bentuk logam maupun kertas dengan ukuran cetak khusus. Tentu tidak seperti sulap, penukaran berlangsung tapak demi setapak meniti waktu. Pemegang amanat pimpinan pasar sibuk setor duit untuk kerabat dan kolega bisnisnya, petugas pemungut pajak, sampai teller bank resmi maupun ilegal. Bagai pusaran angin, lambungkan nilai transaksi, banting moral hingga terjembab pedih jadi sampah.
Jiwa ini jadi gila diam-diam, tatap pemandangan ini.
Bustanul 'bokir' Arifin
Pasarinduk Brebes, 9 Januari 2014
Selasa, 07 Januari 2014
Politikus
Pada suatu hari, 3 anak usia belasan tahun bertanya, "Apa politikus itu?" Lantas ada jawab dalam bentuk tanya pula, "Itu tugas atau pekerjaan rumah dari guru sekolah kalian?" "Bukan, justru guru di sekolah belum jelaskan soal itu." jawab mereka senada.
Lalu mencoba cari arti politikus pada sekian buku pelajaran milik 3 anak tadi, yang ada hanya paparan peristiwa masa lalu berikut nama-nama politikus yang harus dihafal dan jadi jawaban bernilai benar saat ujian. Masih telusuri buku-buku pelajaran sekolah itu, dan berulang temu kalimat perintah : silahkan diskusi bersama teman lalu busat kesimpulan!
Agar tidak ada penasaran terbit pada pikiran 3 anak maka dibuatlah penjelasan sesuai pengalaman bejar di jalanan dan alam semesta. Dan bukan penjelasan seorang dokterandes, doktor apalagi profesor.
Begini penjelasannya berikut tanya jawab dengan anak-anak (A,B dan C) itu:
"Dalam rumah kalau ada masalah kepada siapa kalian akan mengadu?"
A: "Bapak!"
B: "Ibu!"
C: "Tidak ada"
"Mengapa ada jawaban 'Tidak ada' untuk tempat mengadukan masalah?"
C: "Bapak dan Ibu sibuk, jadi kalau ada masalah lebih baik diam. Kalau mengadu malah dapat marah."
"Kakak atau adikmu?"
C: "Malah bingung mereka."
"Paman atau Bibi?"
C: "Sibuk juga,"
"Nah, kamu perlu politikus."
C: "Hah?!"
"Politikus itu ada untuk jadi tempat warga bertanya dari soal main sepak bola di pekarangan, pekerjaan rumah tugas guru di sekolah, bingungnya kakak dan adik, bahkan soal sibuknya Bapak Ibu, Paman dan Bibi. Dan politikus itu cerdas karena bisa menjawab semua tanya itu, walaupun cukup dijawab dengan kalimat: 'Saya tampung, dan janji semoga terjawab pertanyaan ini."
Lalu si A,B dan C pun seakan-akan sudah ketemu si politikus.
--
Bustanul 'bokir' Arifin
Kaligangsa Wetan - Brebes, 7 Januari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Baju Tidur
Waktu itu, diajak oleh kawan pergi ke pasar untuk belanja beberapa baju tidur perempuan dalam jumlah banyak. Aku tidak menduga tujuan dia membeli baju tidur kwalitas bagus itu untuk apa, malah sangat kaget saat tahu baju-baju itu untuk siapa.
Mungkin lebih dari dua puluh baju yang dibeli, aku tidak ikut menghitung secara pasti. Usai pembelian, kami masuk dalam mobil sewaan, dan kawan ini berkata kepada supir: 'Ayo pak, kita menuju lokasi A, B dan C...' Inilah awal aku terkejut, lokasi A, B dan C adalah tempat perawatan warga yang mengidap 'schizophrenia' dan sejenisnya. Lokasi A, B dan C tidak berdekatan, tempat itu dikelola bukan oleh pemerintah.
Sampai di lokasi A, B dan C kawan ini langsung menemui pihak pengelola dan berkata dia bawa sesuatu untuk mereka yang sedang dirawat dalam beberapa ruang kamar. Si kawan sudah punya data jumlah perempuan-perempuan yang dirawat, dan dia serahkan baju tidur bagus sesuai dengan data yang ada.
Uniknya semua baju diserahkan pada pengelola, kawan bilang, "Lihat saja besok, apakah pengelola akan beri baju-baju itu pada perempuan dalam ruang perawatan atau diberikan kepada anggota keluarganya sendiri," ujar dia tanpa beban.
Selang beberapa bulan, kawan datang lagi dan langsung nengok lokasi A, B dan C. Apakah pembaca tulisan ini bisa menebak yang jadi kenyataan di lokasi-lokasi itu? Bila tebakan tepat, maka akan tahu siapa yang gila sebenarnya.
Bustanul 'bokir' Arifin
Brebes, 4 Januari 2014
Kamis, 02 Januari 2014
Sayang
hari ini
aku dilecut
oleh cambuk-cambuk berduri tajam
cambuk dari masa kelam
teusuri riwayat cambuk
sejak kapan suka lukai kulit
munculkan rasa trauma
pada perih
sebatas kulit ari
rakyat tidak mudah tunduk
pada jongos pencambuk
rakyat tunggu
yang berani rebut cambuk
duhai ikan pari
dikau lahir bawa cambuk
justru dirimu punah
dilumat pemburu cambuk
cambuk
cambuk tak lagi perihkan kulit
pada mereka yang tahu
kulit, daging, tulang, jantung
ada
tempat
dan
geliat hidup
usah redup
Bustanul bokir Arifin
dua Januari 2014
aku dilecut
oleh cambuk-cambuk berduri tajam
cambuk dari masa kelam
teusuri riwayat cambuk
sejak kapan suka lukai kulit
munculkan rasa trauma
pada perih
sebatas kulit ari
rakyat tidak mudah tunduk
pada jongos pencambuk
rakyat tunggu
yang berani rebut cambuk
duhai ikan pari
dikau lahir bawa cambuk
justru dirimu punah
dilumat pemburu cambuk
cambuk
cambuk tak lagi perihkan kulit
pada mereka yang tahu
kulit, daging, tulang, jantung
ada
tempat
dan
geliat hidup
usah redup
Bustanul bokir Arifin
dua Januari 2014
Selasa, 17 Desember 2013
diam-diam
ketika semesta sulangi malam lewat kerlip bintang
awan pun membuat gelas-gelas hitam
tampung semburat cahaya mereka
bulan mabuk kepayang, menyipitkan mata,
urai senyum pada siapa saja
serigala dan anjing kampung duga dapat cinta dari bulan
lolong mereka lebih keras
dari nyanyian sekumpulan laki-laki pemabuk di trotoar kota
diam-diam si pungguk hampir pingsan
surat cinta dari bulan sampai
diantar angin pelan sekali
***
Kaligangsa-Brebes 17 desember 2013
Bustanul 'bokir' Arifin
awan pun membuat gelas-gelas hitam
tampung semburat cahaya mereka
bulan mabuk kepayang, menyipitkan mata,
urai senyum pada siapa saja
serigala dan anjing kampung duga dapat cinta dari bulan
lolong mereka lebih keras
dari nyanyian sekumpulan laki-laki pemabuk di trotoar kota
diam-diam si pungguk hampir pingsan
surat cinta dari bulan sampai
diantar angin pelan sekali
***
Kaligangsa-Brebes 17 desember 2013
Bustanul 'bokir' Arifin
Senin, 09 Desember 2013
Uzur Main-main
Laki-laki uzur main-main
bawa kaca pembesar
sinar matahari diubahnya jadi titik api
sundut bakar pucuk-pucuk daun
sebelah dia
anak-anak tanam benih pohon
kurang dari satu menit
kaki uzur rusak obrak-abrik benih itu
terus main-main
sampai hadir uzur yang lain
Tegal - 10 Desember 2013
Bustanul 'bokir' Arifin
bawa kaca pembesar
sinar matahari diubahnya jadi titik api
sundut bakar pucuk-pucuk daun
sebelah dia
anak-anak tanam benih pohon
kurang dari satu menit
kaki uzur rusak obrak-abrik benih itu
terus main-main
sampai hadir uzur yang lain
Tegal - 10 Desember 2013
Bustanul 'bokir' Arifin
Organisasi Pemerintahan Kabupaten Brebes Timpang
Senyampang terbitnya hasil survey LSM Gebrak atas kinerja Bupati dan Wakil Bupati Brebes selama satu tahun, ada satu hal yang diduga lolos dari pengamatan. Hal itu adalah peran serta 'Sekretaris Daerah' (Sekda), dalam ilmu organisasi peran sekretaris itu salah satu motor penting, dan seolah pemegang jabatan Sekda tidak peduli atas masa depan warga Kabupaten Brebes.
Bila warga terjebak dalam kacamata politik, sekadar adu domba antar bupati dan wakil bupati, bisa repot. Padahal untuk mengevaluasi organisasi 'Pemkab' sudah ada rel atau aturan evaluasi, dan aturan itu bisa dipelajari warga secara terbuka, via internet maupun bahan cetak. Coba tengok apa tugas utama dan fungsi Sekda? Kalau sudah membaca dan simak tapak kerja Sekda Brebes selama laku kerja Bupati dan Wabup saat ini, apa hasilnya?
Sekda juga sebagai koordinasi dan akomodir kerja-kerja SKPD (Satuan Kerja Pelaksana Dinas), apa iya sudah melakukan semua itu? Bila telapak satu tahun tampak masing-masing SKPD berjalan tanpa koordinasi yang jelas. Sekda juga memberi laporan pada Bupati, atas perkembangan organisasi pemerintahan. Kalo laporannya berisi 'Asal Bupati Senang', ini berbahaya.
Sekali lagi, 'notes' ini sekadar ingatkan kembali, bahwa Pemerintahan Kabupaten Brebes itu berbentuk 'organisasi' yang dijalankan Pegawai Negeri Sipil. Bila memang organisasi timpang, ada onderdil mesin yang perlu diganti.
Brebes, 9 Desember 2013
Bustanul 'bokir' Arifin
Sabtu, 16 November 2013
Ngobrol Mabuk...
Pada hari itu dua laki-laki setengahbaya (juga buaya) rembugan, kesimpulan: Hidup untuk Tetangga...
Tetangganya lubang pantat... haduhhh... Siapa tetangganya lubang pantat? ya kemaluan masing-masing.. Hidup Sekadar penuhi Hasrat Kemaluan Masing-masing.
Mengapa tujuan hidup senista itu? Kesehatan Kemaluan itu penting! sergah salah satu pemabuk. Bagaimana kamu lalui tapak waktu dgn kemaluan yang sakit? repot kan? Suasana obrolan ambyar.
Sejak ditemukannya istilah 'kemaluan', penemu istilah itu berharap manusia bisa malu atas ulah bagai binatang. Namun muncul tanya: apa benar berlaku seperti binatang itu membuat Gengsi Turun?
owalah 'gengsi' maning...
(sambil nenggak Anggur tjap Orang Tua dia berkata) Melayani Kemaluan akan Mati sejak ada istilah IMPOTENT, Laki-laki yang tidak bisa 'ngaceng' juga Perempuan yang matikan hasrat kebutuhan si 'Bawuk' alias Tempik/Turuk.
***
Selanjutnya datang pemabuk dengan tubuh penuh bau khas gelandangan.
Seorang Juragan alias mereka yang hidup dlm kondisi uang bukan masalah, juga repot atas 'kemaluan' masing-masing. Negara selain Indonesia tidak nyatakan bahwa 'Birahi' erat dan nyata pengaruh pd 'kemaluan' ... Indonesia nyatakan itu...
Pernah baca kabar nyatakan: Koruptor Kakap dekat dengan kebutuhan 'Kemaluan'... maka yg paling Subversif di Indonesia adalah Kontol + Tempik. Lah kok jadi ancaman sebenarnya?
Indonesia ingin setara Negara Maju? urusan Kemaluan kudu disetarakan dgn urusan Elite!
Lau bagaimana INDONESIA bisa REPOT hanya urusan KEMALUAN? Karena ada yang punya RASA serupa TUHAN atas MANUSIA ...
Siapa yang punya RASA serupa TUHAN atas MANUSIA | mereka yang KUASA atas NASIB tetangga SILIT/ANUS...
Daya Pikir Rakyat Indonesia masih dalam Belenggu MALU dan KEMALUAN yg dilestarian AGAMA dan DOGMA ...
Padahal diciptakan AGAMA utk MANAJEMEN KEMALUAN MANUSIA juga...
Apa itu MANAJEMEN AGAMA utk KEMALUAN MANUSIA? | agar SUAMI ISTRI tidak DIBUNUH Tetangga di DESA ...
Bila Rakyat Indonesia BERSETUBUH atas Restu Negara... maka TETANGGa tidak REPOT... tapi bila meLAWAN norma itu?
Sederhana: UMUR itu PICU PERANG... the trigger of war was 'the age'... pada ruang LAIN.. TUHAN KEKAL TAK MATI...the trigger of war... siapa yang KUASA atas UMUR ANTAR GENERASI.
Homo-Sapien jadi ancaman dan berbahaya bagi makhluk lainnya, setelah tahu dan mampu berkembang dlm satu 'ORGANISASI'.'ORGANISASI' Homo Sapien semula disebut KERAJAAN, kemudian ada konversi jadi NEGARA.
Siapa Homo-Sapien paling KUAT saat ini? mereka yg MERDEKA atas kuasa MATERI maupun IMATERIAL... dan ini minoritas...Pasar Induk adalah Akuarium laku Homo-Sapien...pada Pasar Induk terpapar: awal Homo-Sapien butuh AMAN, setelah terjamin butuh NYAMAN.. tdk akan cukup sampai KIAMAT.
Homo-Sapien saat ini yg butuh TELEPORTASI adalah mereka yg disembah sesamanya... butuh FATWA.dan tekhnologi TELEPORTASI baru mampu kirim TEXT buatan Homo-Sapien.. belum secara FISIK. Sering Homo-Sapien temukan FAKTA untuk Komunitas KECIL, lalu paksa diri jadi fakta Komunitas Besar, padahal ada REJIM-FAKTA Universal.
Obrolan ditutup semena-mena... biasa ... Homo Sapien mumet... :))
Tegal, Enambelas Nopember Duaributigabelas...
Bustanul 'Bokir' Arifin
Jumat, 18 Oktober 2013
Benteng Terakhir Penegakan Hukum
Media massa Indonesia pada tahun 2013 ini tekun kabarkan kasus hukum pilihan yang mengusik rasa keadilan pada masyrakat, belum lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menangani kasus 'suap' antara Hakim dan Advokat. Sisi lain kabar sosialisasi Inpres No. 1 Tahun 2013 tentang Aksi Pencegahan Pemberantasan Korupsi dan Nilai-nilai Anti Korupsi di lingkungan Mahkamah Agung Repbuli Indonesia hanya dibaca pada kalangan terbatas.
Pilihan redaksi media massa dalam penyajian kabar untuk masyarakat sering dirasa tidak setimbang, tentu hal ini bisa menggubah persepsi pada tegaknya hukum Indonesia. Kenyataan yang ada masih banyak aparat Hukum bekerja sepenuh tenaga dan waktu demi penegakan Hukum. Dan mereka adalah Benteng Terakhir Penegakan Hukum bagi masyarakat.
Lalu bagaimana menguatkan dinding 'benteng' ini, dari gempuran persepsi miring masyarakat akibat pengaruh media massa? Beberapa kasus hukum tertentu saat ini diijinkan dapat pengawalan dari penasehat hukum/pengacara/advokat, bahkan sejak awal proses penanganan kasus oleh pihak kepolisian. Contoh baru adalah kasus kecelakaan lalu lintas di kilometer 8 jalur Tol Jaborawi Jawa Barat, yang melibatkan anak kandung selebritis Indonesia. Kasus-kasus dengan perlakuan khusus ini jelas butuh perhatian khusus pula pada petugas dalam institusi Yudikatif Indonesia. Bila kasus ini dapat mulus menuju proses persidangan di hadapan Majelis Hakim, akan dapat perhatian khusus media masa dan masyarakat.
Banyak praktisi hukum menyatakan prinsip hukum; Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. (Equality before the law, also known as equality under the law, equality in the eyes of the law, or legal equality | Der Gleichheitssatz ius respicit aequitatem, „Das Recht achtet auf Gleichheit“, ist ein Grundsatz im Verfassungsrecht | dikutip dari situs wikipedia). Namun hal ini seolah kabur pada kasus khusus, misal penyelesaian kasus kecelakaan yang melibatkan anak seorang Menteri Koordinator. Betapapun ada beberapa media massa berpihak pada menteri terkait. Disini dalam kasus khusus ada tekanan khusus dari luar institusi peradilan.
Tekanan khusus pihak luar institusi peradilan kadang dirumuskan oleh penasehat hukum (pengacara/advokat) bersama pembuat opini massal (media massa). Menghadapi tekanan khusus ini institusi peradilan boleh berlawan, tentu saja secara legal, semisal menggunakan hak jawab atas kabar maupun opini yang diterbitkan media massa secara imbang. Sedikit masyarakat yang tahu bahwa menteri, tokoh partai politik, pengusaha kaya, selebritis ; mereka mempunyai tim 'pecitraan' dan pembuat opini untuk media massa. Manakala mereka ada kasus dengan institusi peradilan, maka tim 'pencitraan akan bekerja keras menebar opini publik agar berpihak pada mereka. Sayangnya Tim 'pencitraan' berbiaya mahal, bagaimana jika Institusi peradilan mulai melakukan pelatihan kerja sebagai tim 'pencitraan' untuk keperluan kasus-kasus khusus ini.
Mungkin membentuk tim pencitraan akan mengganggu kerja pokok lembaga peradilan, bila kenyataan demikian, maka bisa mengambil pelajaran dari tata tertib atau aturan khusus Institusi Peradilan di negara lain. Beberapa negara ada yang memberlakukan aturan ketat untuk peliputan wartawan atas kasus-kasus khusus. Alat rekam berupa kamera video maupun potret dilarang keras masuk ruang persidangan. Bahkan wartawan bisa menulis kabar manakala institusi peradilan telah mengeluarkan ijin hal terkait. Pembuatan aturan khusus ini bisa dilakukan langsung oleh kepala negara (presiden) dalam bentuk Instruksi Presiden, atau bila ingin berkekuatan hukum tetap, dirumuskan oleh anggota parlemen (wakil rakyat). Bagaimana dengan Indonesia? Pernah ada Rancangan Undang-undang yang menyertakan aturan khusus soal peliputan kabar persidangan bagi wartawan. Namun sayang rancangan tersebut tidak sukses, sebab beberapa kekuatan politik dalam lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum seluruhnya sepakat atas 'equality before the law'. Harapan penulis, semoga paska pemilu 2014 beberapa anggota DPR bisa lebih peduli pada lembaga peradilan Indonesia.
***
Brebes
diunggah pada 19 Oktober 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Kemudian Hening...
Dalam sebuah kantor, pada suatu waktu ada wawancara lamar kerja ;
T: "Titel akademik anda apa mas?"
J : "AS"
T: "Singkatan apa itu?"
J: "Anti Soeharto secara akademik ..."
T: "Sejak kapan ada gelar akademik Anti Soeharto?"
J: "Sejak mahasiswa sadar Lawan Soeharto..."
T: "Tapi gelar akademik Anti Soeharto gak pernah ada ijasahnya mas?"
J: "hmmm... berarti salah universitas.."
T: "Kok bisa?"
J: "Sejak ada per-LAWAN-an terhadap Soeharto, sampai saat ini... tidak ada satu Universitas-pun hormati mereka..."
T: "Hah?"
J: "Benar dunia akademik di Indonesia tak pernah beri gelar kehormatan pd mahasiswa yg ber_LAWAN pada Rezin Soeharto..."
T: "Jadi?"
J: "Disinilah bukti lingkungan akademik Indonesia melakukan laku 'amnesia' atas kejahatan Soeharto ..."
T: "Lalu?"
J: "Negara macam apa yg tidak menaruh Hormat secara akademik pada mereka yg melawan Rejim dalam tapak sejarah?"
T: "Dan?"
J: "Sementara kepada mereka yg pernah bantai warga secara sadis pada masa lalu, kini diberi gelar akademik... "
kemudian hening!
Rabu, 24 Juli 2013
How Tegal Lost Its Atmosphere...
There is unecessary situation, The Art Public Festival did not support by local mass media. Unfortunately the development of art in the city of Tegal increasingly headed in a bad condition.
At the past time, Tegal City have a good art atmosphere, some old public figure claimed that the town of Tegal use to be have high artistic spirit. Actually, it happened before 1966. It was the time when artists organization strongly influences the social life of the people.
Historian Hilmar Farid said that, The true legacy of the New Order Regime: Poverty of Imagination, Political, Social, and Cultural. (LBR ; Left Book Review site | Interview with Hilmar Farid July 2013)
It is too bad if the new order regime political influence still affecting the Tegal Arts Council. This is seen, when there is a simple problem in the Arts Council internal member, instead settling that simple issue get complicated due to complex behavior. As there are gods who influenced the Arts Council. If (that) gods did not bless then the arts council life so hard.
To change this situation need strengthening the bond of the member organization, took power of young artists, the latest rise in the spirit. If there is no change at all, the arts in the tegal city will lose its atmosphere.
Bustanul 'bokir' Arifin
Rasem Cafe ... July 24 2013
Selasa, 23 Juli 2013
ANGGOTA KPU JADI BANWAS PD BPR BKK
Brebes - Salah satu Anggota KPU Brebes berinisial AS dikabarkan undur diri, kemudian jadi Pejabat Banwas PD BPR BKK Brebes. Tentu kabar ini jadi unik, sebab kabar beredar dari mulut ke mulut, bahkan publikasi media massa cetaj daerah maupun online-internetpun tidak terbaca di wilayah produsen telur asin ini.
Di sisi lain, PD BPR BKK atau Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan, layaknya transparan kepada publik sebab kerja badan ini berkaitan dengan pengelolaan keuangan pemerintah yang telah disertakan dalam bentuk saham. Sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Daerah (Perda) Propinsi Jawa Tengah Nomor 20 tahun 2002.
Dalam Perda itu dijelaskan bahwa Pemerintah Daerah tingkat Kabupaten dibenarkan untuk memberi modal kepada PD BPR BKK minimal 2 milyar rupiah, sementara dalam Perda Kabupaten Brebes nomor 7 tahun 2011 jelas memutuskan penyertaan modal kepada PD BPR BKK Brebes sebesar: Rp 7.485.515.272,- (Tujuh milyar empat ratus delapan puluh lima juta lima ratus lima belas ribu dua ratus tujuh puluh dua rupiah). Dan Pemkab Brebes juga diberi kewenangan untuk menggunakan berikut mengawasi saham yang telah ditanamkan pada Perusahaan Daerah dimaksud.
***
Kembali pada kabar anggota KPU yang jadi pejabat Banwas (Badan Pengawas) PD BPR BKK Brebes. Bila ada pertanyaan apa 'vested interest' (kepentingan yang tertanam dengan kuat pada sekelompok orang untuk mengontrol suatu sistem sosial atau kegiatan demi keuntungan kelompoknya) elite pemkab Brebes atas pemberian jabatan kepada anggota KPU?
Pertanyaan ini cukup repot untuk dijawab, apalagi bila mencari jawaban netral tanpa prespektif politik. Memang ada peraturan anggota KPU tidak boleh merangkap jabatan, namun manakala ada anggota undur diri sekadar menempati posisi jabatan strategis dalam perusahaan daerah, disini ada teka-teki. Ada yang menduga peranan Pejabat Badan Pengawas selain pasang mata pada kinerja perusahaan juga beri persetujuan penggunaan saham untuk kepentingan 'elite' Pemerintah Kabupaten. Kalau 'elite' ini gunakan saham untuk pinjaman modal amat sangat lunak pada pengusaha telor asin misalnya, akan ada sentimen positif dari warga. Andaikan yang terjadi saham itu untuk pengusaha yang sudah berkelas besar, nah akan muncul kerepotan baru.
Bila pembaca tulisan ini masih penasaran pada sosok anggota KPU yang undur diri, monggo simak saja profil mereka dalam situs blog mereka. (Ini juga aneh KPU Brebes masih beri informasi pakai blog gratisan, padahal anggaran pembuatan situs internet mereka sudah cair)
Bustanul 'Bokir' Arifin
Hotspot di tepi sawah - Brebes, Juli 23 2013
Langganan:
Postingan (Atom)













